saat dulu di Jogja, tahun 2004 aku ingat, hidupku biasa sekali. semuanya serba berkecukupan, saat aku butuh untuk membeli makan, alhamdulillah aku cukup uang untuk membelinya dengan uang hasil keringatku sendiri. pada saat aku butuh liburan, aku cukup mendapatkan liburan di setiap hari yang kulalui di kota itu. tak ada hari tanpa liburan, hidup tidak ngoyo, tidak terburu-buru. pada saat aku butuh perhatian, betapa banyak orang yang memperhatikan aku, orang tua, saudara-saudara, sahabat-sahabat, seribu satu teman kumiliki hingga tak berhenti wajah ini tersenyum pada dunia. saat aku butuh cinta, di sisiku ada seorang yang sangat mencintaiku. saat aku ingin menikah, kapanpun aku inginkan insyaallah telah ada seorang yang siap menikahiku.
namun aku baru menyadari itu semua pada saat aku telah berada jauh dari segala hal itu.
pada saat ini, di Jakarta, tahun 2009 aku menyadari, hidupku semu sekali. apa yang kucari dalam hidupku pun tak mampu kutemukan. aku menjalani hari tanpa suatu tujuan pasti, hanya sekedar menjalani proses saja. saat aku butuh perhatian, tak satupun yang memperhatikan aku. saat aku terpukul karena peristiwa yang kualami dalam hidupku, tak ada satupun pundak bagiku untuk berbagi atau seorang sahabat yang akan memberikan tissue untuk menyeka air mataku. pada saat aku ingin menikah, tak satupun orang yang mampu menyentuh hatiku dan tersedia untukku berlabuh.
trus kenapa aku bisa kehilangan kehidupanku yang dulu yah?
apakah aku takabur ya Rabb? Naudzubillahimindzalik ... sungguh aku tak mengerti mengapa aku bisa begitu berbeda.
Selasa, 2009 Juni 09
Kamis, 2009 Juni 04
26 tahun
di suatu pagi aku terbangun dan berpikir, begini kalimat yang mengalir tiba-tiba di kepalaku "aku sudah 26 tahun, ternyata aku barus menyadari segala tindakan, keputusan yang kuambil sudah tidak dapat kulimpahkan pertanggungjawaban perbuatannya kepada orang lain. apalagi orang tuaku. ternyata aku sudah harus bisa menentukan hidupku selanjutnya akan seperti apa."
sejak pagi itu, aku berusaha sesadar-sadarnya menjalani hidup, menghitung setiap peluang dan kesempatan yang ada apakah akan kuambil atau kuabaikan. aku berusaha jujur pada diriku sendiri dan kepada orang lain. orang lain memandangku sebagai orang lain sekarang, begitupun aku memandang diriku sendiri sebagai orang lain. rasanya ada nyawa baru dalam diriku. nyawa itu menggeliat mencoba menetapkan langkah pada ragaku, dia mengatakan kepada pikiranku "hei, kamu ke arah sana, tinggalkan ini, ambil itu, jangan terlalu berpikir keras, jalani saja, ambillah nafas sejenak, berpikirlah, benar-benar pikirkan baik-baik tentang semuanya, jangan lupa turuti kata hatimu, dia akan membimbingmu menemukan jalan paling tentram dalam kehidupan ini. mulai hari ini, jadilah dirimu sendiri."
geliatan itu sudah tak ada lagi, namun yang kurasa adalah aku berjalan ke arah yang berbeda. ternyata aku membelokkan tubuhku, pikiranku, rasaku, asaku pada hal berbeda. aku berniat mengakhiri perjalanan panjang kehidupanku.
dulu mas wartawan bermimpi. dia mencariku beberapa hari hanya untuk menceritakan mimpi yang dilihatnya kepadaku. aku sempat penasaran dengan apa yang dia lihat saat itu. kejadian itu terjadi sekitar 3 tahun yang lalu. aku bertanya padanya, "apa yang mas liat tentang aku? kenapa sih kok kayanya serius banget?". pada saat itu kami berbicara lewat telepon, aku di Jakarta dan dia berada di Jogja. dia terdiam kemudian menjawab perlahan, "aku serius Nduk. Tulung ngati-ati yo. Aku melihatmu kebingungan dalam mimpiku, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongmu di dalam mimpiku itu. Kamu menghadapi jalan yang panjang sekali..." aku bertanya sebelum dia selesai bicara "Apakah jalannya ada ujungnya mas?". Dia berkata "maaf Nduk, jalan itu ga berujung yang dalam mimpiku. Kamu kebingungan disana."
yaaaa .... aku menyepelekan mimpi itu pada 3 tahun yang lalu. namun pada beberapa hari yang kulalui di bulan-bulan ini, percayalah aku menyadari bahwa aku berada dalam mimpi itu. aku bingung, aku tidak dapat mengetahui apa yang kutuju dalam hidupku selain menikah dengan orang yang kutunggu sejak 3 tahun lebih lalu bertemu.
Ini adalah hidup dan aku sekarang ingin berhenti dari jalan tak berujung.
sejak pagi itu, aku berusaha sesadar-sadarnya menjalani hidup, menghitung setiap peluang dan kesempatan yang ada apakah akan kuambil atau kuabaikan. aku berusaha jujur pada diriku sendiri dan kepada orang lain. orang lain memandangku sebagai orang lain sekarang, begitupun aku memandang diriku sendiri sebagai orang lain. rasanya ada nyawa baru dalam diriku. nyawa itu menggeliat mencoba menetapkan langkah pada ragaku, dia mengatakan kepada pikiranku "hei, kamu ke arah sana, tinggalkan ini, ambil itu, jangan terlalu berpikir keras, jalani saja, ambillah nafas sejenak, berpikirlah, benar-benar pikirkan baik-baik tentang semuanya, jangan lupa turuti kata hatimu, dia akan membimbingmu menemukan jalan paling tentram dalam kehidupan ini. mulai hari ini, jadilah dirimu sendiri."
geliatan itu sudah tak ada lagi, namun yang kurasa adalah aku berjalan ke arah yang berbeda. ternyata aku membelokkan tubuhku, pikiranku, rasaku, asaku pada hal berbeda. aku berniat mengakhiri perjalanan panjang kehidupanku.
dulu mas wartawan bermimpi. dia mencariku beberapa hari hanya untuk menceritakan mimpi yang dilihatnya kepadaku. aku sempat penasaran dengan apa yang dia lihat saat itu. kejadian itu terjadi sekitar 3 tahun yang lalu. aku bertanya padanya, "apa yang mas liat tentang aku? kenapa sih kok kayanya serius banget?". pada saat itu kami berbicara lewat telepon, aku di Jakarta dan dia berada di Jogja. dia terdiam kemudian menjawab perlahan, "aku serius Nduk. Tulung ngati-ati yo. Aku melihatmu kebingungan dalam mimpiku, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongmu di dalam mimpiku itu. Kamu menghadapi jalan yang panjang sekali..." aku bertanya sebelum dia selesai bicara "Apakah jalannya ada ujungnya mas?". Dia berkata "maaf Nduk, jalan itu ga berujung yang dalam mimpiku. Kamu kebingungan disana."
yaaaa .... aku menyepelekan mimpi itu pada 3 tahun yang lalu. namun pada beberapa hari yang kulalui di bulan-bulan ini, percayalah aku menyadari bahwa aku berada dalam mimpi itu. aku bingung, aku tidak dapat mengetahui apa yang kutuju dalam hidupku selain menikah dengan orang yang kutunggu sejak 3 tahun lebih lalu bertemu.
Ini adalah hidup dan aku sekarang ingin berhenti dari jalan tak berujung.
Senin, 2009 Maret 30
ngomongin hati, andai aku menjadi ...
HUH ... LAGI NGOMONG DI TELPON BELUM SELESAI KOK DITUTUP
CKLEK .... !!!
ra sopan blas ...
kantor koyo kandang singo, unggah ungguh toto boso toto kromo adat ketimuran khas wong Indonesia ra ono blas ...
CKLEK .... !!!
ra sopan blas ...
kantor koyo kandang singo, unggah ungguh toto boso toto kromo adat ketimuran khas wong Indonesia ra ono blas ...
Rabu, 2009 Januari 21
penggalan status YM ku
kepingan-kepingan mimpi kita membangun diri kita untuk menjadi tegar dan kuat, bersama kenangan itu aku berkata "aku merindukanmu, saat kita bercanda di sepanjang jalan di Jogja, teater-teater kecil yang kita hadiri bersama, dan senja di selatan Jogja,... (YM ku 22 Januari 2009)
kalau denger Movie montage David Foster itu rasa-rasanya seluruh hidupku telah tergambarkan dalam lagu-lagu itu.
kalau denger Movie montage David Foster itu rasa-rasanya seluruh hidupku telah tergambarkan dalam lagu-lagu itu.
Selasa, 2008 Desember 30
gajlug-kane manteb dab
khusus untuk orang Jogja, Jateng, dan Suroboyoan, dan sudah lama tinggal di Jakarta atau di kota lain untuk waktu yang cukup lama. Emhh minimal 2 tahunan lah ....
Pasti sudah sering kan dengar komentar "Wah masa sih kamu dari Jawa, kok bahasanya sudah ga medok lagi yah?", atau "Aaah, kamu pasti orang Jawa toh, wis kethok seko rupamu lan suaramu sing merdu mendayu medoke ketok...", atau komentar sejenis lainnya yang menunjukkan bahwa bahasa yang kita keluarkan menunjukkan bahwa kita berasal dari suku bangsa Jawa.
Begini ceritanya, kalo aku sendiri jika sedang bicara sudah terkenal medoknya di kalangan temen-temenku, itu dulu ... lain kalo sekarang, sekarang jarang orang mengira aku dari Jawa, khususnya Jogja. Kenapa? Karena keseringan menggunakan bahasa Indonesia dan tidak ada partner untuk bicara bahasa Jawa yang membuatku menjadi fasih mengucapkan kalimat dalam bahasa Indonesia tanpa medok-medoknya Jawa.
Tapi jangan salah, setiap kali aku pulang kampung ke Jogja, sekembalinya dari sana maka nada bicaraku akan kembali nggajlug, pake tambahan "je", "ki", "jal", ... etc lah ...
Lebih parah, kalau pas pulang ke Jogja aku bisa tertawa 2-5 menit karena mendengarkan kalimat-kalimat yang super-super lama tak terdengar di telingaku, percakapan yang super nJawani, dan membuatku selalu ingin pulang kampung.
Misalnya nih pas aku sedang ke pantai Depok, ada orang sekeluarga berkumpul makan bareng denganku di satu tempat makan di pinggir pantai. Aku awalnya diem saja mendengarkan mereka berbicara, isinya mereka mengkritik masakan dari ikan hiu kecil-kecil yang mereka beli dari pasar ikan di jalan menuju ke pantai.
"Wah ... iki masakane jan uasin tenan." bapaknya bilang gitu. --(wah ini kok masakannya bener-bener asin)
Istrinya ga percaya, trus nyobain kuah dengan cara khas orang Jawa jaman Embah Putriku dulu dan seangkatannya. Caranya yaitu ngambil gagang untuk sendok sayur kemudian kuah diambil sedikit, langsung disruput ke mulut.
"Iyo je, iki sing masak pengen kawin ki..." ucap sang istri polos dan serta merta melihat ke arahku karena aku terperangah melihat cara Ibu-Ibu itu mencoba masakan tadi. (Iya nih, ini yang masak ingin kawin yah)
Aku lemparkan senyuman manisku (waks ... apa lagi coba kalo ga senyum, keahlian dasarku itu je) ke arah Ibu dan pasangannya itu. Akhirnya aku melemparkan pandanganku ke laut di sisi selatan yang berjarak sekitar 50 meter sambil sesekali kulihat sosok disampingku yang tertidur lengkap dengan kacamatanya.
Nah ... gilirannya aku ingin tidur dengan kacamatanya setelah sosok disampingku bangun. Tahu ga, ternyata pembicaraan keluarga di meja sampingku berlanjut apalagi anak-anak dan menantu datang untuk segera makan. Sosok disampingku kubisikin tentang pembicaraan terakhir dari mereka yang lengkap dengan gajlugan khas Jogja dan telah membuatku tersenyum. Sosok disampingku ternyata penasaran dan melirik ke arah keluarga tersebut. Aku memasang posisi tidur terlentang dengan cara memasukkan kakiku ke kolong meja.
"Coba wae sup iki pancen uasin tenan. walah walah ..." ucap Ibu tadi. (coba aja sup ini memang asin beneran. walah walah ...)
Cewek yang lebih pas jadi adiknya sepertinya ikut mencoba karena kudengar ada pembicaraan selanjutnya yang isinya,
"Waduh waduh ... ngene ki toh. Piye suk nek moro mrene meneh awake dhewe pesen nek masak ojo ditambahi uyah maneh." (Waduh waduh ... kok gini yah. Besok kali kita kesini lagi, kita pesen aja kalo memasak jangan ditambahi garam." ucapnya
Aku tersenyum masih mendengarkan komentar-komentar dari keluarga itu. Kulihat sosok disampingku ikut-ikutan tersenyum sambil sesekali melirik ke arahku. Aku tertawa setiap kali dia melihat kearahku, akhirnya tawaku tidak dapat dibendung manakala,
"Ruf, ayo mangan sing akeh. kuwi godongane dipangan ben sehat." (Ruf, ayo makan yang banyak. Ini sayurannya dimakan biar sehat)
"Inggih niki mawon..." suara anak kecil terdengar. (Iya, ini aja ...)
"La ngopo to ra gelem mangan, ndak koyo wedhus ngono?" .... glek ... hahaha ....... aku trus bangun dan tertawa lamaaaaaaaaaa sekaliiiiiiiiiii sampai-sampai sosok disampingku ikut tertawa ngakak juga mendengarkan mereka berbicara. (La kenapa ta kok ga mau makan, takut kaya kambing gitu yah?)
.... sebenarnya, yang membuat lucu adalah logat bicaranya yang sudah lama tidak kudengar dan di mata orang di luar Jawa selalu dipandang "gajlukane ...." wekekeke ...
Pasti sudah sering kan dengar komentar "Wah masa sih kamu dari Jawa, kok bahasanya sudah ga medok lagi yah?", atau "Aaah, kamu pasti orang Jawa toh, wis kethok seko rupamu lan suaramu sing merdu mendayu medoke ketok...", atau komentar sejenis lainnya yang menunjukkan bahwa bahasa yang kita keluarkan menunjukkan bahwa kita berasal dari suku bangsa Jawa.
Begini ceritanya, kalo aku sendiri jika sedang bicara sudah terkenal medoknya di kalangan temen-temenku, itu dulu ... lain kalo sekarang, sekarang jarang orang mengira aku dari Jawa, khususnya Jogja. Kenapa? Karena keseringan menggunakan bahasa Indonesia dan tidak ada partner untuk bicara bahasa Jawa yang membuatku menjadi fasih mengucapkan kalimat dalam bahasa Indonesia tanpa medok-medoknya Jawa.
Tapi jangan salah, setiap kali aku pulang kampung ke Jogja, sekembalinya dari sana maka nada bicaraku akan kembali nggajlug, pake tambahan "je", "ki", "jal", ... etc lah ...
Lebih parah, kalau pas pulang ke Jogja aku bisa tertawa 2-5 menit karena mendengarkan kalimat-kalimat yang super-super lama tak terdengar di telingaku, percakapan yang super nJawani, dan membuatku selalu ingin pulang kampung.
Misalnya nih pas aku sedang ke pantai Depok, ada orang sekeluarga berkumpul makan bareng denganku di satu tempat makan di pinggir pantai. Aku awalnya diem saja mendengarkan mereka berbicara, isinya mereka mengkritik masakan dari ikan hiu kecil-kecil yang mereka beli dari pasar ikan di jalan menuju ke pantai.
"Wah ... iki masakane jan uasin tenan." bapaknya bilang gitu. --(wah ini kok masakannya bener-bener asin)
Istrinya ga percaya, trus nyobain kuah dengan cara khas orang Jawa jaman Embah Putriku dulu dan seangkatannya. Caranya yaitu ngambil gagang untuk sendok sayur kemudian kuah diambil sedikit, langsung disruput ke mulut.
"Iyo je, iki sing masak pengen kawin ki..." ucap sang istri polos dan serta merta melihat ke arahku karena aku terperangah melihat cara Ibu-Ibu itu mencoba masakan tadi. (Iya nih, ini yang masak ingin kawin yah)
Aku lemparkan senyuman manisku (waks ... apa lagi coba kalo ga senyum, keahlian dasarku itu je) ke arah Ibu dan pasangannya itu. Akhirnya aku melemparkan pandanganku ke laut di sisi selatan yang berjarak sekitar 50 meter sambil sesekali kulihat sosok disampingku yang tertidur lengkap dengan kacamatanya.
Nah ... gilirannya aku ingin tidur dengan kacamatanya setelah sosok disampingku bangun. Tahu ga, ternyata pembicaraan keluarga di meja sampingku berlanjut apalagi anak-anak dan menantu datang untuk segera makan. Sosok disampingku kubisikin tentang pembicaraan terakhir dari mereka yang lengkap dengan gajlugan khas Jogja dan telah membuatku tersenyum. Sosok disampingku ternyata penasaran dan melirik ke arah keluarga tersebut. Aku memasang posisi tidur terlentang dengan cara memasukkan kakiku ke kolong meja.
"Coba wae sup iki pancen uasin tenan. walah walah ..." ucap Ibu tadi. (coba aja sup ini memang asin beneran. walah walah ...)
Cewek yang lebih pas jadi adiknya sepertinya ikut mencoba karena kudengar ada pembicaraan selanjutnya yang isinya,
"Waduh waduh ... ngene ki toh. Piye suk nek moro mrene meneh awake dhewe pesen nek masak ojo ditambahi uyah maneh." (Waduh waduh ... kok gini yah. Besok kali kita kesini lagi, kita pesen aja kalo memasak jangan ditambahi garam." ucapnya
Aku tersenyum masih mendengarkan komentar-komentar dari keluarga itu. Kulihat sosok disampingku ikut-ikutan tersenyum sambil sesekali melirik ke arahku. Aku tertawa setiap kali dia melihat kearahku, akhirnya tawaku tidak dapat dibendung manakala,
"Ruf, ayo mangan sing akeh. kuwi godongane dipangan ben sehat." (Ruf, ayo makan yang banyak. Ini sayurannya dimakan biar sehat)
"Inggih niki mawon..." suara anak kecil terdengar. (Iya, ini aja ...)
"La ngopo to ra gelem mangan, ndak koyo wedhus ngono?" .... glek ... hahaha ....... aku trus bangun dan tertawa lamaaaaaaaaaa sekaliiiiiiiiiii sampai-sampai sosok disampingku ikut tertawa ngakak juga mendengarkan mereka berbicara. (La kenapa ta kok ga mau makan, takut kaya kambing gitu yah?)
.... sebenarnya, yang membuat lucu adalah logat bicaranya yang sudah lama tidak kudengar dan di mata orang di luar Jawa selalu dipandang "gajlukane ...." wekekeke ...
Senin, 2008 Desember 22
tukang ojeg
tukang ojegku gayanya kaya bosku
memakai jaket kulit, sepatu kulit mengkilap ... clingg ... dahsyat deh pokoknya
badannya gede, kaya tukang pukul jagoan yang sering ada di film-film jaman dulu
tak lupa ada kumis tipis nyebelin ga jelas dan jijay tralala
benernya tuh aku malas ngojeg ma dia
lebih suka ma tukang ojeg yang dah bapak-bapak dan bermuka santun
yang kesannya ngikut-ngikut aja, suruh ngebut ayooo, suruh pelan ayooo juga
emang dasar kok tuh bapak tukang ojeg ga tahu ngambek pa gimana
tiba-tiba aja minta si ojeg baru ini buat gantiin
kayanya sih mau bagi-bagi rejeki
soalnya aku tidak suka pilih-pilih duit untuk bayarin mereka
langsung jebretttt .... uang merah keluar, baik rute jauh, pendek ...
trus gimana ini kok jadi ngomongin tukang ojegku itu
aku malas ntar dikiranya istri tukang ojegku itu
wong tampange podo klimise kaya bojoku dewe je ...
wuuuu dasar tukang ojeg jaman sekarang
ada-ada aja ...bikin pelanggan kepikiran
diangkat dari kisah nyata
Rie ngojeg tiap kepepet mu ke kantor tiap hari
memakai jaket kulit, sepatu kulit mengkilap ... clingg ... dahsyat deh pokoknya
badannya gede, kaya tukang pukul jagoan yang sering ada di film-film jaman dulu
tak lupa ada kumis tipis nyebelin ga jelas dan jijay tralala
benernya tuh aku malas ngojeg ma dia
lebih suka ma tukang ojeg yang dah bapak-bapak dan bermuka santun
yang kesannya ngikut-ngikut aja, suruh ngebut ayooo, suruh pelan ayooo juga
emang dasar kok tuh bapak tukang ojeg ga tahu ngambek pa gimana
tiba-tiba aja minta si ojeg baru ini buat gantiin
kayanya sih mau bagi-bagi rejeki
soalnya aku tidak suka pilih-pilih duit untuk bayarin mereka
langsung jebretttt .... uang merah keluar, baik rute jauh, pendek ...
trus gimana ini kok jadi ngomongin tukang ojegku itu
aku malas ntar dikiranya istri tukang ojegku itu
wong tampange podo klimise kaya bojoku dewe je ...
wuuuu dasar tukang ojeg jaman sekarang
ada-ada aja ...bikin pelanggan kepikiran
diangkat dari kisah nyata
Rie ngojeg tiap kepepet mu ke kantor tiap hari
Kamis, 2008 Desember 04
kereta jogja-jakarta
Orang-orang jogja itu paling suka naik kereta kalo pulang pergi ke jakarta. Entah itu bisnis atau eksekutif atau malah ekonomi.
Dasar anak mami, sejak dulu aku selalu takut sama kereta api, pertama karena pernah kecopetan handphone pertamaku, Ericsson T168 warna biru, masih pakai antena pendek ... kelas terakhir sebelum Ericsson T10 (ti-ten ...). Bagiku stasiun kereta penuh dengan maling dan copet ... tidak ada keberanian buatku untuk naik kereta lagi sepertinya hingga akhir hayatku.
Lebih-lebih ada lagu "kereta senja" jaman dulu yang dinyanyikan melengking oleh siapa yah ... aku lupa namanya, rasa-rasanya itu lagu membuat sedih semua orang yang menggunakan kereta senja. Pasti kalau naik kereta identiknya dengan perpisahan, pikirku dulu.
Itu dulu ... tahun 2001an ...
Nah tahun 2003,
Aku ikut acara kampusku, belajar bersama ke studio trans TV bersama dengan sahabat-sahabatku seangkatan di kampus Jl. Bener Jogja. Aku tidak tahan dengan goncangan dari kereta dan itu membuatku mual. Apalagi posisi dudukku terbalik, membelakangi posisi kereta yang berjalan. Itu semakin membuatku mual,......
Setelah beberapa tahun selanjutnya, aku baru tahu aku menderita vertigo sehingga titik keseimbanganku tidak baik. Namun setelah menjalani perawatan, akhirnya aku sembuh meski dalam proses sembuhnya, aku harus berjuang melawan benjolan di belakang telingaku yang membuatku semakin berputar-putar sepanjang hari ...
Tahun 2005 akhir,
Akhirnya aku memberanikan diri melakukan perjalanan menggunakan kereta api sendiri. Dengan penuh keprihatinan aku menangis di sepanjang perjalananku dari stasiun Tugu Jogja hingga Senen Jakarta. Menangis karena aku tahu entah apa yang akan terjadi dalam hidupku selanjutnya. Menangis karena ternyata anak mami, anak manja ini harus memikul beban dari kebangkrutan ekonomi keluargaku. Menangis karena uang yang ada di kantongku cuma 100.000 kurang ... Menangis khawatir nanti tidak akan dijemput oleh masku di stasiun, mas yang baru kukenal satu bulan sebelumnya. Menangis karena semuanya aku sadari akan berubah. Sudahlah lupakan lupakan itu sisi sentimentilku ...
Jadi aku melakukan perjalananku dengan kereta pertama kali menggunakan Senja Utama Solo menuju Senen, membeli tiket kereta dengan uang pinjaman dari Mbaku di kantor ternyaman di dunia.... hihihi ... makasih makasih Mba. Bertanya-tanya kepada Mas Wartawanku yang berusaha membelikan aku tiket di saat injury time di stasiun, namun dia harus melaksanakan tugas sehingga tidak akan bisa hadir disaat yang sama.
Kesan pertama naik kereta sendiri, ada suara "nasi anget ... pop mie pop mie .." ... suara ini yang akan kudengar di langkah-langkahku selanjutnya dengan kereta senja baik Jogja, Solo dari Jakarta ke Jogja. Suara penjual "pop mie ..." yang mirip suara hantu di telingaku setiap kali aku mendengarnya di perjalananku ...
Tahun 2008,
Kereta senja dari Solo ke Jakarta pada tanggal 9 September 2008 bersama dengan masku. Tertawa terus karena melihat kekonyolannya karena kedinginan, buka puasa bersama dan sahur bersama di atas kereta .... hihihi ... sssttt dan aku masih ngutang uang kereta padanya untuk ini ...
Tentu saja aku merasa lebih aman berada di kereta senja itu ... Apalagi hari itu adalah hari pertamaku menggunakan jilbabku ... seminggu setelah Ramadhan 1429 H hingga sekarang dan nanti ...
Tapi hari ini dia pulang ke Jogja dengan keretanya, dan aku insyaallah akan menyusulnya esok dengan pesawatku
Dasar anak mami, sejak dulu aku selalu takut sama kereta api, pertama karena pernah kecopetan handphone pertamaku, Ericsson T168 warna biru, masih pakai antena pendek ... kelas terakhir sebelum Ericsson T10 (ti-ten ...). Bagiku stasiun kereta penuh dengan maling dan copet ... tidak ada keberanian buatku untuk naik kereta lagi sepertinya hingga akhir hayatku.
Lebih-lebih ada lagu "kereta senja" jaman dulu yang dinyanyikan melengking oleh siapa yah ... aku lupa namanya, rasa-rasanya itu lagu membuat sedih semua orang yang menggunakan kereta senja. Pasti kalau naik kereta identiknya dengan perpisahan, pikirku dulu.
Itu dulu ... tahun 2001an ...
Nah tahun 2003,
Aku ikut acara kampusku, belajar bersama ke studio trans TV bersama dengan sahabat-sahabatku seangkatan di kampus Jl. Bener Jogja. Aku tidak tahan dengan goncangan dari kereta dan itu membuatku mual. Apalagi posisi dudukku terbalik, membelakangi posisi kereta yang berjalan. Itu semakin membuatku mual,......
Setelah beberapa tahun selanjutnya, aku baru tahu aku menderita vertigo sehingga titik keseimbanganku tidak baik. Namun setelah menjalani perawatan, akhirnya aku sembuh meski dalam proses sembuhnya, aku harus berjuang melawan benjolan di belakang telingaku yang membuatku semakin berputar-putar sepanjang hari ...
Tahun 2005 akhir,
Akhirnya aku memberanikan diri melakukan perjalanan menggunakan kereta api sendiri. Dengan penuh keprihatinan aku menangis di sepanjang perjalananku dari stasiun Tugu Jogja hingga Senen Jakarta. Menangis karena aku tahu entah apa yang akan terjadi dalam hidupku selanjutnya. Menangis karena ternyata anak mami, anak manja ini harus memikul beban dari kebangkrutan ekonomi keluargaku. Menangis karena uang yang ada di kantongku cuma 100.000 kurang ... Menangis khawatir nanti tidak akan dijemput oleh masku di stasiun, mas yang baru kukenal satu bulan sebelumnya. Menangis karena semuanya aku sadari akan berubah. Sudahlah lupakan lupakan itu sisi sentimentilku ...
Jadi aku melakukan perjalananku dengan kereta pertama kali menggunakan Senja Utama Solo menuju Senen, membeli tiket kereta dengan uang pinjaman dari Mbaku di kantor ternyaman di dunia.... hihihi ... makasih makasih Mba. Bertanya-tanya kepada Mas Wartawanku yang berusaha membelikan aku tiket di saat injury time di stasiun, namun dia harus melaksanakan tugas sehingga tidak akan bisa hadir disaat yang sama.
Kesan pertama naik kereta sendiri, ada suara "nasi anget ... pop mie pop mie .." ... suara ini yang akan kudengar di langkah-langkahku selanjutnya dengan kereta senja baik Jogja, Solo dari Jakarta ke Jogja. Suara penjual "pop mie ..." yang mirip suara hantu di telingaku setiap kali aku mendengarnya di perjalananku ...
Tahun 2008,
Kereta senja dari Solo ke Jakarta pada tanggal 9 September 2008 bersama dengan masku. Tertawa terus karena melihat kekonyolannya karena kedinginan, buka puasa bersama dan sahur bersama di atas kereta .... hihihi ... sssttt dan aku masih ngutang uang kereta padanya untuk ini ...
Tentu saja aku merasa lebih aman berada di kereta senja itu ... Apalagi hari itu adalah hari pertamaku menggunakan jilbabku ... seminggu setelah Ramadhan 1429 H hingga sekarang dan nanti ...
Tapi hari ini dia pulang ke Jogja dengan keretanya, dan aku insyaallah akan menyusulnya esok dengan pesawatku
Langgan:
Entri (Atom)

