Tersenyum aku sendiri ketika aku tersadar bahwa aku tak sendiri
Seperti halnya kaum hawa yang lain ... ingin diperhatikan oleh pasangan kami masing-masing
Saat kaum adam yang kami cinta dikerumunin bunga-bunga
Hati kami tersentak ... kami tidak terima
Tersenyumku sendiri saat aku tersadar jika aku tak sendiri
Saat kami ditinggal oleh pasangan kami ... ingin rasanya mereka mengingat kami di sela-sela keasyikannya dalam dunianya
Ingatlah ... kami disini memikirkanmu wahai kaum adam ...
Janganlah kalian lupakan kami yang tertinggal di rumahmu
Tersenyumku sendiri ....
Saat aku menyadari jika aku cemburu karena dia pergi tapi tak mengajakku serta
Aku ingin dia berkata pada dirinya sendiri jika suatu saat dia akan mengajakku ke tempat yang sama .... hanya berdua ...
Aku ingin dia mengingatku di sela-sela waktunya
Aku ingin dia berpikir untuk segera pulang untuk kembali bersamaku
karena aku disini menantinya hadir ....
Ditulis oleh Rie
Lagi ditinggal pergi ke Bali huhuhu .... pantesan semalam udara mengalirkan suara lagu movie montage pembawa berita ke hatiku kalau aku harus menghubunginya ....
23 Oktober 2009
Kamis, 22 Oktober 2009
Kamis, 08 Oktober 2009
Udara itu ....
Today at 10:20am |
Ada seorang yang sangat ekstrem terhadap segala sesuatu bercerita padaku "Saat aku menginjakkan kaki di Kuta, aku cium tanah disana sedalam-dalamnya."
Aku heran kok aneh yah tingkahnya, apa sebegitu inginnya dia ke Bali tapi baru kesampaian sekarang? Kok sampai melakukan hal konyol seperti itu?
Ternyata aku salah, yang dia lakukan tujuannya bukan seperti perkiraanku.
Ternyata setiap jiwa memiliki suatu tanah dan tempat tertentu yang dia merasa cocok untuk berada ditempat itu
Aku yakin, jiwa seseorang yang kukenal itu, tak mampu menemukan tempat lain yang dia kenal dengan baik, seperti halnya dia mengenal Bali
Begitupun dengan manusia lain, jiwa lain, juga memiliki kepekaan tersendiri terhadap sesuatu yang dia inginkan
Udara membawa alunan kesunyian pada jiwa-jiwa yang ditemuinya
Angin merubah arah haluannya
Tabuhan gendang mewarnai perjalanannya
Menuju kesempurnaankah?
Atau menuju ke arah pengembalian hakikat hidup?
Seorang perempuan berdiri di depan stasiun lama kota itu
Matanya menatap ujung jalan di hadapannya
Angin perlahan berhembus menghampirinya, dia berbisik lirih "Jiwa ruhmu ada disini ..... cinta tak perlu kau kejar lagi ...."
Jumat, 9 Oktober 2009
Ditulis oleh Rie
Aku heran kok aneh yah tingkahnya, apa sebegitu inginnya dia ke Bali tapi baru kesampaian sekarang? Kok sampai melakukan hal konyol seperti itu?
Ternyata aku salah, yang dia lakukan tujuannya bukan seperti perkiraanku.
Ternyata setiap jiwa memiliki suatu tanah dan tempat tertentu yang dia merasa cocok untuk berada ditempat itu
Aku yakin, jiwa seseorang yang kukenal itu, tak mampu menemukan tempat lain yang dia kenal dengan baik, seperti halnya dia mengenal Bali
Begitupun dengan manusia lain, jiwa lain, juga memiliki kepekaan tersendiri terhadap sesuatu yang dia inginkan
Udara membawa alunan kesunyian pada jiwa-jiwa yang ditemuinya
Angin merubah arah haluannya
Tabuhan gendang mewarnai perjalanannya
Menuju kesempurnaankah?
Atau menuju ke arah pengembalian hakikat hidup?
Seorang perempuan berdiri di depan stasiun lama kota itu
Matanya menatap ujung jalan di hadapannya
Angin perlahan berhembus menghampirinya, dia berbisik lirih "Jiwa ruhmu ada disini ..... cinta tak perlu kau kejar lagi ...."
Jumat, 9 Oktober 2009
Ditulis oleh Rie
Rabu, 07 Oktober 2009
Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri
Yesterday at 8:48am
Tahun hanya pergantian waktu bukan?
Seperti yang kulalui sebelumnya, tak pernah ada yang sama di dunia ini
Waktu hanya pergantian isi cerita kehidupan bukan?
Layaknya isi lagu cinta yang terus digubah oleh para penembang
Sinema kehidupan diganti oleh pergantian detik 59 ke angka 00
Tak pernah sama lagi dan tak bisa mundur lagi ke detik-detik sebelumnya
Permintaanku hanya untuk memberi senyum ketulusan
Tak perlu aku meminta diberi senyuman yang sama
Karena aku sadar tak ada yang sama di dunia ini
Permohonanku hanya untuk mengukir kisah indah dengan setiap ruh yang kutemui
Orang menyebutnya aku bermanfaat
Suatu waktu aku melihat wajah-wajah di sekelilingku berubah menjadi gelap
Aku pun kembali menyadari tak ada yang sama di dunia ini
Karena aku pun menyadari hanya akulah pemilik hari pergantian itu
Kusimpan untukku sendiri
Kurengkuh untuk diriku sendiri
Setiap tahun di tanggal yang sama aku selalu mengatakan "Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri ...."
Aku hanya butuh tempat merenung di tanggal itu
Aku hanya ingin membaginya dengan diriku sendiri kebahagiaan itu
Aku hanya dapat mengamini permohonanku sendiri di hari itu
Tak ada hari yang sama, tak ada kisah yang sama, hanya 60 detik dan sedikit pelukan inginku dapatkan untuk menyempurnakan ulang tahunku
Tak kudapatkan jua .....
Jakarta, 7 Oktober 2009 -- Rie
Seperti yang kulalui sebelumnya, tak pernah ada yang sama di dunia ini
Waktu hanya pergantian isi cerita kehidupan bukan?
Layaknya isi lagu cinta yang terus digubah oleh para penembang
Sinema kehidupan diganti oleh pergantian detik 59 ke angka 00
Tak pernah sama lagi dan tak bisa mundur lagi ke detik-detik sebelumnya
Permintaanku hanya untuk memberi senyum ketulusan
Tak perlu aku meminta diberi senyuman yang sama
Karena aku sadar tak ada yang sama di dunia ini
Permohonanku hanya untuk mengukir kisah indah dengan setiap ruh yang kutemui
Orang menyebutnya aku bermanfaat
Suatu waktu aku melihat wajah-wajah di sekelilingku berubah menjadi gelap
Aku pun kembali menyadari tak ada yang sama di dunia ini
Karena aku pun menyadari hanya akulah pemilik hari pergantian itu
Kusimpan untukku sendiri
Kurengkuh untuk diriku sendiri
Setiap tahun di tanggal yang sama aku selalu mengatakan "Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri ...."
Aku hanya butuh tempat merenung di tanggal itu
Aku hanya ingin membaginya dengan diriku sendiri kebahagiaan itu
Aku hanya dapat mengamini permohonanku sendiri di hari itu
Tak ada hari yang sama, tak ada kisah yang sama, hanya 60 detik dan sedikit pelukan inginku dapatkan untuk menyempurnakan ulang tahunku
Tak kudapatkan jua .....
Jakarta, 7 Oktober 2009 -- Rie
Kitiran
Tiba-tiba teringat mainan jaman kecil, Kitiran
Dulu main itu di kebun tetangga bersama teman-teman satu dusun
Tepatnya di bawah pohon bambu, Pring-Pringan
Aku sering kagum melihat teman-temanku menerbangkannya
Sampai tinggi ... hampir sampai ke separuh dari tinggi pohon bambu itu
Sedangkan aku, seperempat tinggi bambu saja tak sampai
Kitiran itu terbang layaknya kupu-kupu, banyak sekali ....
Aku selalu mendongak keatas berharap aku yang menjadi mereka
Tertiup angin mencoba meraih tempat tertinggi ...
Menjadi indah untuk dilihat
Menjadi pembentuk mimpi orang lain
Tiba-tiba pula aku teringat pengalaman pertamaku belajar memasak
Dulu aku tidak memasak makanan
Melainkan batu genteng warna merah
Kurebus dalam kaleng cat
Dulu aku merasa hebat sekali mendapatkan kaleng cat itu
Air dan batu genteng kucampur
Bumbunya pasir dan tanah
Api dinyalakan diatas tungku dari bebatuan kecil
.........
Kamis, 8 Oktober 2009
Ditulis oleh Rie --- sakjane dadi wong ndeso ki luwih penak
Dulu main itu di kebun tetangga bersama teman-teman satu dusun
Tepatnya di bawah pohon bambu, Pring-Pringan
Aku sering kagum melihat teman-temanku menerbangkannya
Sampai tinggi ... hampir sampai ke separuh dari tinggi pohon bambu itu
Sedangkan aku, seperempat tinggi bambu saja tak sampai
Kitiran itu terbang layaknya kupu-kupu, banyak sekali ....
Aku selalu mendongak keatas berharap aku yang menjadi mereka
Tertiup angin mencoba meraih tempat tertinggi ...
Menjadi indah untuk dilihat
Menjadi pembentuk mimpi orang lain
Tiba-tiba pula aku teringat pengalaman pertamaku belajar memasak
Dulu aku tidak memasak makanan
Melainkan batu genteng warna merah
Kurebus dalam kaleng cat
Dulu aku merasa hebat sekali mendapatkan kaleng cat itu
Air dan batu genteng kucampur
Bumbunya pasir dan tanah
Api dinyalakan diatas tungku dari bebatuan kecil
.........
Kamis, 8 Oktober 2009
Ditulis oleh Rie --- sakjane dadi wong ndeso ki luwih penak
Jumat, 04 September 2009
September 2005, ada perempuan menatap kosong air hujan yang jatuh di atas pohon palm KFC Jl. Chairman's Jogja, dia melihat ke arah setiap titik hujan itu. Ada perasaan dingin hinggap di dalam kalbunya, dia sepertinya menunggu seseorang. Ada harapan di mata itu, sepertinya harapan itu untuk menemukan cinta sejatinya yang mungkin akan hadir bersama tetes air hujan itu. Dia cantik, rambutnya terurai, memakai baju berwarna merah muda. Dia sedang mencari, mencari sesuatu yang selalu dia nantikan dalam hidupnya. Seseorang yang dia tunggu akhirnya datang juga, seorang laki-laki muda, kira-kira berumur 30 tahun dengan baju yang tidak terlalu keren untuk dikatakan bahwa dia orang kaya. Emh ... dia seorang teman perempuan itu sepertinya. Terlihat dari cara mereka berpandangan satu sama lain, cara mereka berjabatan tangan.
Desir di hatiku mengatakan gadis itu sepertinya sedang terluka, aku bisa merasakan dari tiupan angin yang berhembus dari arahnya. Lihatlah, dia tertawa bersama laki-laki itu ... tawa apakah itu? Kuperhatikan, itu bukanlah sebuah tawa bahagia ... tawa keputus asaan ...
Mereka terus berbincang, perempuan itu sepertinya memang cepat akrab dengan siapapun. Buktinya, mereka berdua langsung saling memegang tangan satu sama lain. Perempuan itu berharap dia akan menemukan cinta sejatinya di diri laki-laki itu.
.....................................................
September 2009, ada perempuan menatap kosong langit
Desir di hatiku mengatakan gadis itu sepertinya sedang terluka, aku bisa merasakan dari tiupan angin yang berhembus dari arahnya. Lihatlah, dia tertawa bersama laki-laki itu ... tawa apakah itu? Kuperhatikan, itu bukanlah sebuah tawa bahagia ... tawa keputus asaan ...
Mereka terus berbincang, perempuan itu sepertinya memang cepat akrab dengan siapapun. Buktinya, mereka berdua langsung saling memegang tangan satu sama lain. Perempuan itu berharap dia akan menemukan cinta sejatinya di diri laki-laki itu.
.....................................................
September 2009, ada perempuan menatap kosong langit
Selasa, 09 Juni 2009
someone like you-Andrea Bocelli-album Melodramma
saat dulu di Jogja, tahun 2004 aku ingat, hidupku biasa sekali. semuanya serba berkecukupan, saat aku butuh untuk membeli makan, alhamdulillah aku cukup uang untuk membelinya dengan uang hasil keringatku sendiri. pada saat aku butuh liburan, aku cukup mendapatkan liburan di setiap hari yang kulalui di kota itu. tak ada hari tanpa liburan, hidup tidak ngoyo, tidak terburu-buru. pada saat aku butuh perhatian, betapa banyak orang yang memperhatikan aku, orang tua, saudara-saudara, sahabat-sahabat, seribu satu teman kumiliki hingga tak berhenti wajah ini tersenyum pada dunia. saat aku butuh cinta, di sisiku ada seorang yang sangat mencintaiku. saat aku ingin menikah, kapanpun aku inginkan insyaallah telah ada seorang yang siap menikahiku.
namun aku baru menyadari itu semua pada saat aku telah berada jauh dari segala hal itu.
pada saat ini, di Jakarta, tahun 2009 aku menyadari, hidupku semu sekali. apa yang kucari dalam hidupku pun tak mampu kutemukan. aku menjalani hari tanpa suatu tujuan pasti, hanya sekedar menjalani proses saja. saat aku butuh perhatian, tak satupun yang memperhatikan aku. saat aku terpukul karena peristiwa yang kualami dalam hidupku, tak ada satupun pundak bagiku untuk berbagi atau seorang sahabat yang akan memberikan tissue untuk menyeka air mataku. pada saat aku ingin menikah, tak satupun orang yang mampu menyentuh hatiku dan tersedia untukku berlabuh.
trus kenapa aku bisa kehilangan kehidupanku yang dulu yah?
apakah aku takabur ya Rabb? Naudzubillahimindzalik ... sungguh aku tak mengerti mengapa aku bisa begitu berbeda.
namun aku baru menyadari itu semua pada saat aku telah berada jauh dari segala hal itu.
pada saat ini, di Jakarta, tahun 2009 aku menyadari, hidupku semu sekali. apa yang kucari dalam hidupku pun tak mampu kutemukan. aku menjalani hari tanpa suatu tujuan pasti, hanya sekedar menjalani proses saja. saat aku butuh perhatian, tak satupun yang memperhatikan aku. saat aku terpukul karena peristiwa yang kualami dalam hidupku, tak ada satupun pundak bagiku untuk berbagi atau seorang sahabat yang akan memberikan tissue untuk menyeka air mataku. pada saat aku ingin menikah, tak satupun orang yang mampu menyentuh hatiku dan tersedia untukku berlabuh.
trus kenapa aku bisa kehilangan kehidupanku yang dulu yah?
apakah aku takabur ya Rabb? Naudzubillahimindzalik ... sungguh aku tak mengerti mengapa aku bisa begitu berbeda.
Kamis, 04 Juni 2009
26 tahun
di suatu pagi aku terbangun dan berpikir, begini kalimat yang mengalir tiba-tiba di kepalaku "aku sudah 26 tahun, ternyata aku barus menyadari segala tindakan, keputusan yang kuambil sudah tidak dapat kulimpahkan pertanggungjawaban perbuatannya kepada orang lain. apalagi orang tuaku. ternyata aku sudah harus bisa menentukan hidupku selanjutnya akan seperti apa."
sejak pagi itu, aku berusaha sesadar-sadarnya menjalani hidup, menghitung setiap peluang dan kesempatan yang ada apakah akan kuambil atau kuabaikan. aku berusaha jujur pada diriku sendiri dan kepada orang lain. orang lain memandangku sebagai orang lain sekarang, begitupun aku memandang diriku sendiri sebagai orang lain. rasanya ada nyawa baru dalam diriku. nyawa itu menggeliat mencoba menetapkan langkah pada ragaku, dia mengatakan kepada pikiranku "hei, kamu ke arah sana, tinggalkan ini, ambil itu, jangan terlalu berpikir keras, jalani saja, ambillah nafas sejenak, berpikirlah, benar-benar pikirkan baik-baik tentang semuanya, jangan lupa turuti kata hatimu, dia akan membimbingmu menemukan jalan paling tentram dalam kehidupan ini. mulai hari ini, jadilah dirimu sendiri."
geliatan itu sudah tak ada lagi, namun yang kurasa adalah aku berjalan ke arah yang berbeda. ternyata aku membelokkan tubuhku, pikiranku, rasaku, asaku pada hal berbeda. aku berniat mengakhiri perjalanan panjang kehidupanku.
dulu mas wartawan bermimpi. dia mencariku beberapa hari hanya untuk menceritakan mimpi yang dilihatnya kepadaku. aku sempat penasaran dengan apa yang dia lihat saat itu. kejadian itu terjadi sekitar 3 tahun yang lalu. aku bertanya padanya, "apa yang mas liat tentang aku? kenapa sih kok kayanya serius banget?". pada saat itu kami berbicara lewat telepon, aku di Jakarta dan dia berada di Jogja. dia terdiam kemudian menjawab perlahan, "aku serius Nduk. Tulung ngati-ati yo. Aku melihatmu kebingungan dalam mimpiku, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongmu di dalam mimpiku itu. Kamu menghadapi jalan yang panjang sekali..." aku bertanya sebelum dia selesai bicara "Apakah jalannya ada ujungnya mas?". Dia berkata "maaf Nduk, jalan itu ga berujung yang dalam mimpiku. Kamu kebingungan disana."
yaaaa .... aku menyepelekan mimpi itu pada 3 tahun yang lalu. namun pada beberapa hari yang kulalui di bulan-bulan ini, percayalah aku menyadari bahwa aku berada dalam mimpi itu. aku bingung, aku tidak dapat mengetahui apa yang kutuju dalam hidupku selain menikah dengan orang yang kutunggu sejak 3 tahun lebih lalu bertemu.
Ini adalah hidup dan aku sekarang ingin berhenti dari jalan tak berujung.
sejak pagi itu, aku berusaha sesadar-sadarnya menjalani hidup, menghitung setiap peluang dan kesempatan yang ada apakah akan kuambil atau kuabaikan. aku berusaha jujur pada diriku sendiri dan kepada orang lain. orang lain memandangku sebagai orang lain sekarang, begitupun aku memandang diriku sendiri sebagai orang lain. rasanya ada nyawa baru dalam diriku. nyawa itu menggeliat mencoba menetapkan langkah pada ragaku, dia mengatakan kepada pikiranku "hei, kamu ke arah sana, tinggalkan ini, ambil itu, jangan terlalu berpikir keras, jalani saja, ambillah nafas sejenak, berpikirlah, benar-benar pikirkan baik-baik tentang semuanya, jangan lupa turuti kata hatimu, dia akan membimbingmu menemukan jalan paling tentram dalam kehidupan ini. mulai hari ini, jadilah dirimu sendiri."
geliatan itu sudah tak ada lagi, namun yang kurasa adalah aku berjalan ke arah yang berbeda. ternyata aku membelokkan tubuhku, pikiranku, rasaku, asaku pada hal berbeda. aku berniat mengakhiri perjalanan panjang kehidupanku.
dulu mas wartawan bermimpi. dia mencariku beberapa hari hanya untuk menceritakan mimpi yang dilihatnya kepadaku. aku sempat penasaran dengan apa yang dia lihat saat itu. kejadian itu terjadi sekitar 3 tahun yang lalu. aku bertanya padanya, "apa yang mas liat tentang aku? kenapa sih kok kayanya serius banget?". pada saat itu kami berbicara lewat telepon, aku di Jakarta dan dia berada di Jogja. dia terdiam kemudian menjawab perlahan, "aku serius Nduk. Tulung ngati-ati yo. Aku melihatmu kebingungan dalam mimpiku, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongmu di dalam mimpiku itu. Kamu menghadapi jalan yang panjang sekali..." aku bertanya sebelum dia selesai bicara "Apakah jalannya ada ujungnya mas?". Dia berkata "maaf Nduk, jalan itu ga berujung yang dalam mimpiku. Kamu kebingungan disana."
yaaaa .... aku menyepelekan mimpi itu pada 3 tahun yang lalu. namun pada beberapa hari yang kulalui di bulan-bulan ini, percayalah aku menyadari bahwa aku berada dalam mimpi itu. aku bingung, aku tidak dapat mengetahui apa yang kutuju dalam hidupku selain menikah dengan orang yang kutunggu sejak 3 tahun lebih lalu bertemu.
Ini adalah hidup dan aku sekarang ingin berhenti dari jalan tak berujung.
Langgan:
Entri (Atom)

